8/21/2007

Maximin n Minimax Methode

Beneran..Ternyata tipe setiap orang berbeda-beda, ada orang yang ketika mempunyai suatu ide di kepalanya mereka langsung mengeluarkan dengan verbal..pintar mengutarakan argument, dan berani melakukan suatu eksperimen. Tapi ada juga orang yang mempunyai suatu konsep di otak, namun sulit untuk mengutarakan isi otak, kebanyakan mereka cenderung terlibat ke lapangan langsung dan bekerja di lapangan.


Olint juga gak habis fikir, pernah ketemu dengan beberapa orang yang setiap waktu beliau pinter aja ngomong tuh, ga habis bahan pembicaraan, mungkin orang-orang tipe ini bakalan kepake kalo terlibat dalam usaha marketing atau berhubungan lobi-melobi dengan orang or perusahaan untuk dapet project yang lumayan or menawarkan product... membuat orang yang mendengarkan or nyimak bisa tertarik or yakin dengan sesuatu yang sedang ditawarkan oleh vendor agar si customer tertarik…tapi kebanyakan juga bakat untuk seperti itu enggak diimbangi dengan keahlian jika terjun ke lapangan langsung..tapi gak semuanya ko…pada umumnya (emang olint dah survey?- yah enggak sih, ye baonk)…paling olint sih baru menemukan sample dilingkungan sekitar olint..bisa dari temen, kampus, kerjaan, or blablabla…


Orang yang pinter akan konsep, belum tentu pintar ketika ia terjun langsung ke lapangan…begitu juga sebaliknya..ada orang yang kurang bisa memanage sesuatu ketika dia diposisikan sebagai pemimpin, namun terlihat maksimal ketika masuk sebagai posisi pekerja…tapi sih ini ga ada maksud disangkut pautin dengan orang tipe NATO (No Act Talk Only)…soalnya pasti dah pada tau tipe orang seperti ini..cuman butuh bukti real dilapangan aja…


Contoh seperti BJ Habibie…beliau yang udah bergelar proffesor n diberi gelar ‘ing’ oleh orang–orang jerman atas kecerdasan akademiknya, bahkan sudah mengeluarkan suatu rumus standarisasi kaya rumus habibie (iya gitu lint? kata siapa?) ‘dianggap’ oleh Jerman n bangsa kita pun sebagai orang yang pintar dan cerdas…bagi kita mungkin orang yang pintar atau cerdas pasti punya kemampuan dan keahlian dalam kepemimpinan…Namun pada kenyataannya pendapat seperti itu belum tentu mutlak kebenarannya…Memang dalam urusan membuat pesawat dan nilai eksaknya, beliau memperoleh acungan jempol, bahkan rapotnya ketika sekolah tak pernah bosan untuk diisi oleh angka2 romawi yang paling tinggi yaitu angka sembilan. Dari seorang yang pintar dan cerdas ini ketika diposisikan sebagai presiden, banyak yang menilai bahwa kinerjanya sebagai seorang professor pembuat mesin pesawat terbang malah lebih dipuji orang dibandingkan kinerjanya dalam pembuat keputusan or decision maker ketika dihadapkan oleh persoalan bangsa..yah entah itu bidang politik seperti contoh kasus Timor-timor…(Duuh…ko jadi ngomongin Pa Habibi sih?- ga ada maksud ngomongin sih…cuman ngetikkin beliau aja..walau jujur olint sendiri kagak ngerti banget soal politik2an)..


Makannya kenapa ada manager n ada pekerja, gitu juga ada tukang becak n penumpang (loh ko nyambung ke sana?) yah soalnya kalo semua orang jadi manager aja..siapa yang bakalan ngerjain hasil idenya?..gitu juga kalo semua orang jadi pekerja suruhan aja..kalo ga ada orang yang mengkoordinir, pasti semua kerjaan bakalan berantakan n ga teratur. Yang satu mau ke ‘A’ yang satu mau ke ‘B’ makannya dibutuhkan seorang yang mengatur biar arah tujuan or visi misinya jelas…gitu juga dengan semua orang..gak semua orang kuat jika mengayuh becak..butuh keseimbangan, kekuatan otot, n minuman suplemen yang diiklanin mbah Marijan n Christ John (ga juga sih) buat nguasain alat beroda tiga tersebut..Makannya emang bener, Allah tuh menciptakan makhluknya berpasang-pasangan..(kenapa nyambung kesana lint?- yah iya lah nyambung..)…gak semuanya monoton…ada ‘Yin’ ada ‘Yang’…ada ‘langit’ ada ’bumi’, etc…Masya Allah…Keren!!


So..ga mungkin masing-masing orang harus memerankan semua peran…setiap orang punya jalannya masing-masing…punya misi hidupnya masing-masing..makannya setiap orang yang satu n yang lain sifatnya unique kaya di primary key dalam field data base…bahkan anak kembar lima pun pasti ada perbedaan. Kadang ketika diskusi ma temen juga, kenapa orang-orang barat kebanyakan sukses dalam karirnya..karena mereka punya pandangan bahwa ketika mereka mempunyai bakat dan peluang, mereka berusaha mendalami bidang tersebut..gak perlu banyak bidang..tapi cukup satu dan satu itu diperdalam…gak maruk kaya kita…ups! olint aja deh…pengennya ini or itu..ada yang nawarin project diterima, ada yang ngajak usaha tertentu hayuu..ada yang ngerekomendasiin jadi sesuatu, ga nolak…semua aja diterima…biar banyak order n pemasukkan cennah…hehe…Justru dengan banyaknya pilihan tersebut malah ternyata sangat sulit untuk kita menentukan di mana bidang yang sebenernya yang hak untuk kita…


Emangnya buat apa sih lint kita harus tau kayak ginian?..yah minimal ini usaha untuk kita dalam mengenal diri kita…dalam wilayah luarnya aja dulu…dari tingkat jasadiyah/ jasad dulu…soalnya hal ini aja sulitnya minta ampun…gimana untuk mengenal aspek dalemnya juga itu lebih-lebih…denger dari pembicaraan seseorang yang always memberi pelajaran…bahwa ukuran diri kita itu diukur oleh kesempatan dan kemampuan..Jika kesempatan sudah ada tapi kemampuan tidak dimiliki..maka jangan memaksakan diri..itu hawa nafsu namanya, begitu juga jika kemampuan sudah dimiliki namun kesempatan belum ada, jangan juga maksa-maksain diri..hawa nafsu juga..idealnya sih ketika kesempatan dan kemampuan ada dan kita miliki, maka itulah yang sebaiknya kita ambil…


Begitu juga dengan pekerjaan…misalnya kita merasa berat atau tidak memiliki kemampuan jadi seorang programmer tetapi kita memaksakan diri kita untuk mengerjakan pekerjaan itu…(sebenernya gak salah ko..) hanya saja..kita menggunakan energi maksimal kita, sampei sering kita hadapi stressing n nyiksa diri kayak lupa makan, marah-marah, sholat sering telat (astagfirullahaladziim), lemah, letih, lesu (itu mah gejala kurang darah nenk!! Ngaco!!), etc…namun ketika dihadapkan pekerjaan menjadi seorang perawat dan itu lebih nyaman, ada kepuasan ‘bathin’ dan semakin mendekatkan diri kita untuk berjalan menujuNya…yah lebih baik kita menggunakan energi minimal kita untuk menghasilkan energi maksimal kita…susah susah gampang n gampang-gampang susah…yah itulah pekerjaan awal kita…titik awal…dari tingkat jasadiyah…setelah itu baru berlanjut pada tingkat jiwa..


Karena mamah olint dah manggil-manggil dari dapur,,minta tolong masakin soup…ya udah segini aja dulu…n olint mo ke bawah dulu..


Oia…


Ketika seseorang bekerja dalam fitrah dirinya..dan beragama dalam bidangnya, maka perjalanannya akan lebih mudah dibandingkan dia memaksakan bekerja bukan dalam bidangnya…


“Man ‘Araafa Nafsahu Faqad ‘Araafa Rabbahu”

“Barang siapa yang mengenal nafs/jiwanya maka akan mengenal Rabb nya”


Bantu aku Ya Allah..untuk mengenal diriku…


Astagfirullahaladziim…

Allahualam bishawab…



wasalam
dzihni firuz

0 komentar: