nb :Dapet dari temen, n kebetulan beliau nyuruh olint ngejawab n ngasih masukkan....tapi referensi jawabannya olint dapet ga asing lagi dari :
- Al-Quran , Al-hadist
- http://suluk.blogsome.com
Gini nih artikelnya....(sambil senyum2 sendiri aku bacanya):
Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang akan menyelamatkan pemeluknya di dunia dan akhirat. Yang akan menuntun dari kegelapan menuju kepada cahaya, dari kesesatan menuju jalan lurus. Al Islamu ya’lu wala yu’la, Islam itu luhur senantiasa kita pegang dengan teguh. Tidak ada syari’at yang membawa kedamaian selain syari’at Islam…………………
Tapi, benarkah Islam akan menjadi penyelamat? Bisakah Islam menjawab tantangan zaman? Bisakah syari’at Islam membawa kedamaian? Akankah Islam menjadi yang luhur dan tidak tertandingi? Jika umat Islam masih tidak mau berubah, tidak mau menunjukkan jati dirinya sebagai seorang muslim. Mungkinkah apa yang menjadi cita-cita luhur di atas terwujud, jika kaum muslim masih merasa nyaman dengan kebesaran sejarah di masa lalu? Bagaimana akan tegak kedamaian jika umat Islam sendiri enggan mengamalkan syari’at yang di usung oleh Revolusioner dunia. Muhammad SAW……….
Ada adagium, siapa yang mampu menguasai informasi, dialah yang akan menggenggam dunia. Itulah yang hilang dari kaum muda Islam hari ini. Lost Information, fenomena yang mengkhawatirkan. Banyak alasan yang menyebabkan hal ini terjadi, seperti terlalu asyiknya sebagian kaum muda Islam dengan gaya hura-hura ala remaja pada umumnya. Hingga kaum muda Islam seolah-olah tidak punya identitas, jati diri dan karakter yang membedakan dengan remaja umum lainnnya.
Segala macam informasi positif mestilah kita kuasai, minimal mengetahui, hingga tidak menjadi kaum muda Islam yang kuper, gaptek dan ga’ gaul. Hanya saja, banyak yang melupakan bahwa informasi yang positif itu juga datang dari Islam. Kaum muda Islam banyak salah memahami, kalau orang yang gaul itu yang bias sama dengan apa yang ada di Teve, apa yang ngetrend di majalah, yang lagi in di fashion. Padahal, orang yang gaul itu adalah seperti yang disebut di atas, yaitu yang menguasai informasi dan pengetahuan, termasuk informasi dan pengetahuan tentang Islam. Gengsi donk, gaya gaul-baju gaul-rambut gaul tapi isi kepala kosong melompong. Ditanya masalah ini ga’ bisa jawab, ditanya masalah itu ga’ bisa ngomentar. Apalagi ngaku remaja muslim yang gaul, pas ditanya tentang agamanya, yang berkaitan dengan keIslaman cuman bisa melongo bego kayak kambing kena polio, he..he..he...
Nah buat buktiin kamu ga’ cuman gaya doank, ga cuman ngaku gaul doank...(atau mirip kambing doank...sorry), kita-kita dari panitia SII Four-teen;Young Moeslem4tomorrow, punya banyak rasa penasaran. Biar rasa penasaran ini di bagi rata, makanya kalian kudu bisa ngasih informasi tentang masalah di bawah ini :
Apa sih tujuan sebenarnya kita diciptakan oleh Sang Kholiq ?
Sudah sejauh mana kita memahami tentang Islam ? dan apa Islam itu ? lantas bagaimana sikap seharusnya seorang muslim itu (minimal untuk diri pribadi) ?
Benarkah Islam itu up to date (mengikuti zaman) or gaul ? kalau benar apa buktinya !
Kenapa sih kita kudu mengikhtiarkan untuk bisa menjalankan syari’at dalam kehidupan sehari-hari ? jawabnya pake’ karena ya!
Kalau melihat realita sekarang khususnya para remaja muslim and muslimah, akankah kita merasakan kembali masa keemasan di masa Nabi Muhammad Rosululloh SAW !
Perlu ngga kita punya rencana hidup ? perlu buat konsep ga ! tujuannya buat apa !
Apa sih masa depan yang diharapakan oleh kita sebagai remaja dalam persaingan hidup dengan musuh Islam, ketika terkadang kita melihat sacara kasat mata hidup mereka yang glamour dan sukses ?
Assalamualaikum Wr Wb
Ngebaca tulisannya jadi merinding...^_^..soal Islam? Berat juga...yah mungkin mencoba mengutarakan dengan ringan n sedikit rada kurang formal, kalo formal ntar serius amat n bacanya jadi ngantuk..tapi bukan berarti hal ini dianggap sepele..justru topik ini yang merupakan topik yang menjadi landasan/ dasar utama kita ketika kita mampir ke alam mulk/dunia ini..Kalo kita udah ditakdirkan lahir di dunia ini..mungkin diantara kita ada yang penasaran atau bertanya-tanya..ntah itu pada diri sendiri ataupun pada orang yang lebih ngerti..”Buat apa sih kita hidup? Apa tujuan kita hidup?” kebanyakan orang sih dengan gaya bilang...yah buat ibadah..intinya mencari Ridho Allah...(-dalem hati ada perasaan weis ghaya uy...aku bisa jawab dengan diplomatis gini—hawa nafsu pengen dianggep ’ghayanya’ keluar-)...ibadah? nyari Ridho Allah? ..jawaban yang cukup ideal..tapi pas ditanya selanjutnya..emang ibadah itu apa? Ridho Allah itu apa? ..udah deh stuck ampe di sini..kita hanya cengo aja...
Terkadang kita hanya mengutip dalil-dalil yang sudah ada. Tapi ketika ditanya apa makna dari sebuah ayat, kita (terutama olint) pribadi dah bingung jawabnya.
Kalo ditanya soal Islam,,, apa sih Islam itu? Jawabannya gini nih...”Islam itu adalah agama...Agama yang paling unggul, n menjadi rahmat bagi seluruh alam..orang-orang selain Islam bakalan masuk neraka, hanya orang Islam yang masuk surga”..hehe...bisa ngebuktiin?...
Itu sekedar prolog...n menjadi pertanyaan pribadi ke diri kita...
langsung mencoba ngejawab pertanyaan aja:
Apa sih tujuan sebenarnya kita diciptakan oleh Sang Kholiq ?
Setiap penciptaan sesuatu, pastilah punya tujuan. Seperti sama-sama telah kita ketahui, tiada sesuatupun diciptakan-Nya tanpa tujuan (QS. 3:191). Lalu apakah tujuan penciptaan kita (manusia) di bumi ini oleh Allah Ta’ala? Hal ini sangat penting sekali kita ketahui apabila kita ingin berjalan di muka bumi ini sesuai dengan apa kehendak sang pencipta.
Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa tujuan penciptaan manusia ada beberapa point, yaitu:
Sebagai saksi adanya Allah SWT
Sebelum lahir ke dunia ini nafs/ jiwa manusia berjanji (saksi; asyhadu, syahid, syuhada) kepada Allah Ta’ala di alam Alastu, mempersaksikan bahwa hanya Allah-lah Rabb-nya (Q.S. 7:172). Yang demikian dilakukan agar mereka tidak ingkar di hari akhir nanti.
Pada saat ini pula Allah Ta’ala telah menentukan kepadanya empat perkara , yaitu: (1) Ajal, (2) Rezeki, (3) Amal, serta (4) Keberuntungan dan Musibah (Hadits riwayat Muslim). Dari hadits ini, berbeda dengan anggapan umum, kita lihat bahwa jodoh tidak masuk ke dalam yang ditentukan saat itu.
Di sini pula kita sering tergelincir memaknai ’syuhada’. Kata ’syuhada’, akar katanya sama dengan kata pada syahadat kita ‘Asyhadu’, artinya bersaksi, mempersaksikan dengan sepenuh kepercayaan, dengan sepenuh keyakinan (mengenai Tuhannya). Kata ’syuhada’ tidak semata-mata berarti orang yang mati di medan perang. Kata ’syuhada’ berarti ‘orang yang telah mempersaksikan’.
Di zaman Rasulullah, mereka yang gugur ketika berniat mengorbankan jiwa mereka untuk Allah melalui jalan yang tersedia dan dibutuhkan ummat pada masa itu (berperang), yang pengorbanannya diterima oleh Allah, dianugerahi sebuah ‘penyaksian (akan kebenaran)’ melalui gugurnya mereka di medan perang. Maka, belum tentu setiap orang yang gugur di medan perang adalah ’syuhada’. Juga hal ini berimplikasi bahwa banyak cara lain menjadi seorang ’syuhada’ selain melalui peperangan.
QS 7 : 172 – 173 (Al-A’raf/Tempat Tertinggi)
172:Dan (Ingatlah), ketika Tuhan-mu Mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Mengambil Kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman),”Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab,”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan,”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan),”
173:atau agar kamu tidak mengatakan,”Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan Membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”
Sebagai Khalifah (wakil Allah di Bumi)
Khalifah Allah sebenarnya adalah perwakilan Allah untuk memakmurkan bumi. Banyak yang salah mengira bahwa menjadi khalifah berarti ‘menguasai’. Adam A.S bukanlah manusia pertama, tetapi ia adalah khalifah pertama. Sebelumnya terdapat manusia-manusia yang tidak bertugas sebagai khalifah, seperti Pitecanthropus, Meganthropus, Paleo Javanicus, dsb. Lihatlah penggunaan kata: ‘Khalifah’ bukan ‘Insan’ di ayat tersebut.
Untuk bertugas sebagai khalifah, bukan berarti harus selalu dibentuknya sebuah sistem pemerintah berlabelkan Islam. Sebenarnya tiap individu dapat berperan sebagai khalifah Allah di muka bumi ini secara individual, karena sesungguhnya seorang manusia baru berfungsi sebagai khalifah, adalah ketika ia berkarya di bumi ini berdasarkan misi untuk berbuat ‘yang Allah telah tentukan kepadanya di alam Alastu’.
Masing-masing orang punya “Misi Suci” yang berbeda-beda, yang telah Allah tugaskan kepadanya. Berdasarkan misi suci inilah “untuk apa” seseorang diciptakan dan “menurut apa dimudahkan kepadanya”.
Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, sudahkah dikenal para penduduk neraka dan penduduk surga?” Jawab Rasulullah: “Sudah.” Lalu ia kembali bertanya: “Kalau begitu untuk apa manusia beramal ?” Rasulullah SAW menjawab: “Mereka beramal untuk apa dia diciptakan dan menurut apa yang dimudahkan kepadanya”. (Hadits Riwayat Bukhari).
Kebanyakan manusia tidak mengetahui untuk apa dia dicipta di dunia ini. Sehingga -masuk akal- apabila ia tidak dapat menjadi wakil serta penjelmaan citra Allah di muka bumi sebagai khalifah (pemakmur bumi).
Ketika seorang berkarya di bumi ini sesuai dengan Misi Hidup nya, maka secara langsung ia telah berkarya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki padanya. Maka secara langsung pula ia telah menjadi Abdi Allah (QS 51:56) secara hakiki.
QS 2 : 30 (Al-Baqarah/Sapi Betina)
Ingatlah ketika Tuhan-mu Berfirman kepada para malaikat, ”Sesungguhnya Aku hendak Menjadikan seorang KHALIFAH di muka bumi”. Maka mereka berkata, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : ”Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Sebagai Pemakmur Bumi
QS 11 : 61 (Hud)
Dan kepada Tsamud (Kami Utus) saudara mereka saudara mereka Shalih. Shalih berkata, ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia. Dia telah Menciptakan kamu dari bumi tanah) dan Menjadikan kamu PEMAKMURNYA1, karena itu mohonlah Ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhan-ku amat Dekat (Rahmat-Nya) lagi Memperkenankan (doa Hamba-Nya).
Manusia sebagai PEMAKMUR bumi bukan utk membuat kerusakan
Sebagai Hamba Allah
Menjadi abdi Allah secara sederhana berarti ‘hanya bersedia mengabdi kepada Allah Ta’ala’. Tidak mau mengabdi kepada selain dari Allah Ta’ala, termasuk di dalamnya mengabdi kepada hawa nafsu dan syahwat kita sendiri. Melepaskan diri dari perbudakan hawa nafsu dan syahwat merupakan bagian dari tahapan pertaubatan yang harus dilakukan.
QS 51 : 56 (Adz-Dzariyat/Angin yang menerbangkan)
Dan Aku tidak Menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka MENYEMBAH-KU.
Sebagai Pengemban Amanah (manusia di bumi sudah ada ketetapan/misi hidup masing-masing & bekerja dalam misi tsb)
QS 17 : 13 (Al-Isra’/Memperjalankan Di Malam Hari)
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami Tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami Keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka.
Sudah sejauh mana kita memahami tentang Islam ? dan apa Islam itu ? lantas bagaimana sikap seharusnya seorang muslim itu (minimal untuk diri pribadi) ?
Suatu ketika, Rasulullah saw sedang bersama para sahabatnya. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang sangat tampan yang tidak mereka kenal wajahnya. Ia berpakaian sangat bersih, seperti bukan orang yang baru tiba dari perjalanan, walaupun dari wajahnya para sahabat tahu bahwa ia bukanlah penduduk sekitar. Lalu lelaki itu bertanya pada Rasulullah Saw., “Apakah iman itu?” Rasulullah menjawab dengan menyebutkan rukun iman.
Lelaki itu bertanya lagi, “Apakah Islam itu?” Dan Rasulullah pun menjawab dengan menyebutkan rukun Islam. Pada pertanyaan yang ketiga, lelaki itu bertanya, “Apakah ihsan itu?”
Jawab Rasulullah,
“Anta’budallah ka annaka taraah, fa’illam takun taraah, fa’innahu yaraak.”
“Engkau mengabdi kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Setelah ini ada beberapa dialog lagi, kemudian lelaki itu pergi. Ketika para sahabat mencarinya dan tidak berhasil menemukannya, dengan keheranan mereka menyampaikannya pada Rasulullah karena lelaki itu menghilang demikian cepat. Jawab Rasulullah, “Dia Jibril, yang datang untuk mengajarkan manusia (para sahabatnya) tentang diin mereka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari.
Nb: hadist di atas sudah dengan terang-terangan menjelaskan bahwa Ad Diin adalah terdiri dari komponen Al-Iman + Al-Islam + Ihsan. Kebanyakan kita beranggapan bahwa Islam itu adalah ‘Diin’ kita..tapi justru Islam itu adalah salah satu dari 3 komponen Ad-Diin..dan komponen ini tidak bisa dipisahkan..kalo Islam sudah dikatakan Diin sedangkan tidak didukung oleh komponen Iman dan Ihsan, maka kita belum bisa dikatakan ber Ad-Diin dengan baik, begitu juga sebaliknya.
Islam sendiri secara istilah berarti berserah diri, selamat (salam).
Islam..Aslama..Salam
Islam = berserah diri (bukan berdiam diri dan bukan juga pasrah)
Berserah diri = orang yg menjual diri dan hartanya kepada Allah, menyerahkan jiwa dan raganya kepada Allah, usaha total.
Berserah diri = Hamba Allah = Budak Allah, artinya rela untuk diatur sesuai dengan kehendak Majikan, tanpa protes, mengeluh..
Berserah diri menuntut kita untuk mengerjakan apapun perintahnya AMAL
Coba kita telusuri lagi huruf-huruf yang membentuk kata Islam (ada ‘Sa’, ‘lam’, ‘mim’), begitu juga dengan muslim () di dalam muslim juga ada kata (‘Sa’, ‘lam’, ‘mim’)…mungkin bagi yang bisa bahasa Arab, lebih tahu tentang strukturnya..Lihat aja di indeks Al-Quran digital kalo bahasa arabnya dalam bahasa terjemahannya adalah..”Berserah diri”…jadi muslimin itu adalah orang yang berserah diri..(ada Kehendak di atas kehendak dia)..berserah diri bukan berarti pasrah..tapi justru itu pekerjaan yang secara total yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada tuntunan dan petunjuk tuhannya, yaitu Allah.
Membahas Hal ini sangat Panjang dan membutuhkan waktu. Mungkin itu sebagian kecilnya.
Benarkah Islam itu up to date (mengikuti zaman) or gaul ? kalau benar apa buktinya !
Dari zaman Nabi Adam A.S sampai nabi-nabi setelahnya n penutupnya adalah Rasulullah SAW..bahwa aqidah itu adalah sama, yaitu intinya berseru untuk menyembah dan berserah diri kepada Allah..Namun, secara syariat, setiap nabi membawanya dengan berbeda-beda…dalam hal saum aja, saumnya nabi Daud n nabi Muhammad itu berbeda, setiap nabi membawa risalahnya kepada suatu kaum tertentu. Misalnya nabi shalih yang diutus ke kaum Tsamud, nabi Hud ke kaum 'Aad, Nabi Syu'aib ke penduduk Madyan, Bani Israil oleh Nabi Musa, dll.
Namun Nabi Penutup yaitu Nabi Muhammad SAW diperuntukkan untuk kaum sampai akhir zaman..dan kita pun berlaku..mengapa syariat setiap nabi berbeda-beda? Karena syariat tergantung dengan kondisi alam yang berbeda-beda. Untuk kita, kita sekarang mengikuti syariat Nabi terakhir..yaitu nabi Muhammad
Islam itu up to date?..yah bisa dikatakan iya..soalnya ketika kita membaca terjemahan Al-Quran aja..di dalamnya terkandung ayat-ayat yang sangat luar biasa..menceritakan tentang kejadian alam, tentang penciptaan gunung, penciptaan manusia, gugusan galaksi atau bintang-bintang, tentang hujan, dll..padahal kitab ini dibuat kalo ga salah 14 abad yang lalu..namun bisa menceritakan atau meramalkan tentang informasi-informasi atau pengetahuan..bahkan para scientis pun kembali menelaah Al-Quran dikarenakan penemuannya itu ternyata sudah diceritakan terlebih dahulu di dalam Al-Quran.. setiap ayat dalam Al-Quran mengandung makna yang dalam dan hanya dapat disentuh oleh orang-orang yang dikehendakiNya…oleh karena itu Al-Quran merupakan Mukzizat yang luar biasa..jangan salah loh…kiamat pun sudah diramalkan ciri-cirinya seperti apa..
Kenapa sih kita kudu mengikhtiarkan untuk bisa menjalankan syari’at dalam kehidupan sehari-hari ? jawabnya pake’ karena ya!
Kalo pake ‘karena’ kayanya ga nyambung…prolog dulu aja ya..
Iman itu menyangkut aqidah, sedangkan Islam menyangkut amal dan syariat, dan ihsan itu berkaitan dengan shaleh. Ada sebuah perkataan dari Rasulullah “Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu” yang artinya “Barangsiapa mengenal diri (sejati)nya, akan mengenal Tuhannya”…
Dengan mengenal dirinya secara sejati, maka mulailah seseorang ber-agama secara sejati pula. “Awaluddiina ma’rifatullah,” kata Ali bin Abi Thalib R.A. Awalnya ad-diin (agama) adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). Jadi berbeda dengan pengertian awam bahwa mencapai makrifat adalah tujuan beragama, justru sebaliknya: ma’rifat adalah awalnya beragama, ber-diin dengan sejati.
Menurut Imam Al-Ghazali, syariat terdiri dari dua, yaitu syariat lahir yang biasa kita sebut sebagai fiqih, dan syariat bathin yang disebut sebagai thasawwuf..kedua komponen ini pun tidak bisa dipisahkan.
Ketika fiqih menganjurkan untuk sholat, maka syariat bathinnya mengajarkan kita untuk khusuk, ketika fiqih mengajarkan zakat, maka syariat bathinnya mengajarkan tentang ikhlas, ketika fiqih mengajarkan tentang haji, maka thasawwuf mengajarkan tentang berkorban.
Proses perjalanan manusia : syariat -> tarekat -> hakikat -> ma’rifat
Nah ketika ditanya Kenapa sih kita kudu mengikhtiarkan untuk bisa menjalankan syari’at, jawabannya karena Tahap paling awal perjalanan seorang manusia berawal dari syar’iat, syari’at diumpamakan sebagai pagar dalam sebuah rumah..syariat sebagai tahap dasar yang dikerjakan untuk tujuan mencapai ma’rifat..dan ma’rifat adalah awal dari Ad-Diin.
Suatu hal yang mustahil ketika seseorang yang sudah ma’rifat kepada Allah, namun dia meninggalkan syariat seperti meninggalkan sholat..karena Rasulullah pun yang sudah ma’rifatullah, masih menjalankan syariatnya salah satunya dengan menegakkan shalat.
Kalau melihat realita sekarang khususnya para remaja muslim and muslimah, akankah kita merasakan kembali masa keemasan di masa Nabi Muhammad Rosulullah SAW !
Pertanyaannya luchu (bukan maksud ngetawain loh ^_^)…oia ada sebuah hadist..tapi lengkapnya lupa..semoga ketemu aslinya..tapi yah isinya sih..bahwa ada suatu masa dimana agama hanya sampei menyentuh kulitnya saja, sedangkan Al-Quran hanya sebagai bacaan…(semoga ketemu hadistnya) tapi kurang lebih sih itu maksudnya..yah ntah masanya kapan..tapi yah kita bisa merenungi diri aja…apakah Al-Quran sampai saat ini hanya sebagai bacaan?...Menurut Imam Al-Ghazali: Barang siapa yang buta hatinya, maka agama hanya tersentuh sampai ke kulitnya…sedangkan maknanya tak dapat dijangkau…ngebahas ini panjang juga…tapi intinya sih…kalau kita masih memegang yang dua itu (Al-Quran n Al-hadist)..Insya Allah kita akan selamat…
Istilahnya Ayat Al-Quran itu bukan untuk dihapal oleh otak..karena ketika meninggal pun jasad dan otak pun akan hancur..tapi ayatnya itulah yang diusahakan untuk ’diamalkan’ karena dalam QS 29:49 : ”Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada(shudur) orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”
Jadi ayat Al-Quran itu berada di dalam shudur (dada- perangkat qalb) orang-orang yang diberi ilmu (berarti bukan yang mencari ilmu ya?)..diberi berarti Allah Ta’ala Yang Memberi ilmu bagi orang Yang DikehendakiNya (QS 10:100)..selama kita masih berusaha untuk memegang 2 itu..semoga Allah Memberi Keselamatan kepada kita.
Dan obat dari karatnya hati adalah membaca Al-Quran dan mengingat kematian.(Al-hadist)
Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat kelak dengan membawa syafa’at bagi mereka yang membacanya”(HR Muslim)
Jadi kalo ditanya akankah kita merasakan kembali masa keemasan di masa Nabi Muhammad Rasulullah SAW? Jadi jawabnya Allahualam...
Kalo secara argument nakal olint sih bisa aja..asal remaja muslim and muslimah sudah mengaplikasikan kedua pegangan Al-Quran n Al-hadist (itu secara logika n pendapat orang awam kayak olint loh)...tapi secara hakikat semua tergantung Allah yang Berkehendak...Allah lebih Mengetahui Kondisi dibanding kita.. siapa tahu kalo di masa ini kita diberi kejayaan dalam Islam...eh malah kita jadi bangga dengan atribut kejayaan kita...semakin ‘membesarkan ego kita dan ego keislaman kita’..makannya bisa jadi Allah belum Memberikan kondisi seperti yang kita harapkan karena didalam diri kita masih ada perasaan bangga akan label keislaman kita yang ternyata di dalam Al-Quran sendiri sudah termasuk kedalam golongan orang-orang yang musyrik…
ada di QS 30:31-32:
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, ()
32. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Ps: itu definisi Al-Quran loh, bukan kata olint..peace
Yang dilihat adalah proses..bukan hasil, minimal dari diri kita sendiri aja dulu...jangan sampei ngajak orang untuk mengajak kebaikan, sedangkan kita sendiri masih jauh dari Al-Quran n Al-Hadist...berat juga ngebahas ini, yah walau pun manusia tidak akan mencapai taraf seideal Rasulullah yang dikatakan sebagai Al-Quran berjalan...tapi minimal yang dinilai adalah niat dan usahanya untuk mencariNya. Ketika mengajarkan orang lain berenang..kita pun harus ahli dalam berenang..
Amal tergantung dari ilmu. Sebanyak –banyaknya amal yang kita lakukan, akan dianggap kecil jika tidak dilandasi oleh ilmu...
Perlu ngga kita punya rencana hidup ? perlu buat konsep ga ! tujuannya buat apa !
Ada kalimat bagus nih, olint ga tau siapa yang mengeluarkan statement ini, semoga ketemu juga orangnya:
Gunakanlah setiap kesempatanmu hari ini. Anda tidak boleh bergantung pada hari esok. Perhatikanlah hari ini!
Manusia adalah putera waktu, ia tidak menyesali masa lalu, dan tidak risau akan masa depan
Seorang bijak pernah berkata, bahwa ada dua hari dalam hidup ini yang sama sekali tak perlu anda khawatirkan.
Yang pertama: hari kemarin. Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi Yang kedua: hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, anda tak tahu apa yang akan terjadi.
"Lihatlah hari ini, sebab ia adalah kehidupan, kehidupan dari kehidupan. Dalam sekejap dia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu. Nikmat pertumbuhan. Pekerjaan yg indah. Indahnya kemenangan. Karena hari kemarin tak lebih dari sebuah mimpi. Dan esok hari hanyalah bayangan. Namun hari ini ketika anda hidup sempurna telah membuat hari kemarin sebagai impian yg indah. Setiap hari esok adalah bayangan yg penuh harapan. Maka lihatlah hari ini"
Nb: tapi kalo difikir-fikir sih...sepertinya kita ga punya rencana banget ya, alias pasrah....srah...srah...(pasrah = tanpa usaha maksimal ) mungkin suatu rencana boleh kita buat, planning-planning ke depan, tapi jangan sampei terobsesi akan rencana yang belum tentu akan terjadi..orientasinya masa depan aja...padahal masih abstrak..yang nyata kita hadapi adalah hari ini..maka lakukan hari ini dengan sebaik mungkin...’syukuri apa yang Allah hadirkan per hari ini’...masa depan boleh kita susun..namun bukan menjadi bahan ambisi untuk pencapaian target...karena kita gak tahu ke depannya seperti apa...dan perlu diketahui bahwa kematian yang memutuskannya...
Oia ada hadist juga sih...beribadahlah seolah-olah kita akan mati hari esok dan bekerjalah seolah-olah kita hidup 1000 tahun lagi ....(aduh...kalo salah mohon diperbaiki...soalnya lupa)...
7. Apa sih masa depan yang diharapkan oleh kita sebagai remaja dalam persaingan hidup dengan musuh Islam, ketika terkadang kita melihat secara kasat mata hidup mereka yang glamour dan sukses ?
Tunggu....musuh yang mana nih??
Musuh internal aja masih banyak loh...bandel-bandel...seneng berbau duniawi aja...wah jangan dulu ke musuh eksternal deh...internal aja masih susah diperangi....kata Rasulullah aja...kita akan menghadapi perang yang lebih akbar dibanding perang Badar...ayoo lawan siapa?...lawan hawa nafsu....waduh sulit banget....nafsu n syahwat yang soulmate itu loh...dan itu lebih besar dibanding perang Badar (yang berkata Rasulullah saw...bukan olint)...kebayang kan perang Badar..ternyata perang ngelawan hawa nafsu lebih besar....nah kalo udah ngerasa menang kelak n bikin KO si hawa nafsu, baru kita bergegas lawan musuh di luar sana..itu juga kalo Allah yang berkehendak.
Musuh-musuh internal kita :
Hawa nafsu (QS 25:43-44, QS 45:23),
syahwat (QS 3:14 – kalo lihat Arabnya, ada tercantum kalimat -> Hubb= kecintaan, Syahawati= Syahwat),
Jasad karena terbentuk dari unsur kebumian (air, tanah, api, udara) yang senengnya juga segala hal tentang keduniaan..dan akan kembali ke bumi..pas meninggal.
Musuh yang nyata :Syaitan
QS 104:4-5 yang membisikkan ke dalam shudur/dada manusia
QS 28:15, QS 4:101, QS 6:142, QS 2:168, dll
Di Al-Quran dengan jelas gamblang mendefinisikan kafir : coba search aja di indeks Al-Quran. Salah satu ayatnya di QS 16:106-107
106. Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.
107. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
Dari ayat tersebut, Kafir: tidak diberi petunjuk, yang mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat…(itu definisi dari Al-Quran - dari 2 ayat tersebut…belum tambahan ayat yang lain)..
Sebelum ke orang di luar Islam…kita Tanya dulu aja ke diri ini misalnya nih…”olint masih cinta kehidupan dunia dibanding akhirat?”..jawaban nakal/ ‘sok’ nya olint sih “ya tentu donk…olint cinta akhirat dibanding dunia…”…kalo emang bener olint lebih cinta akhirat…apa olint udah belajar tentang ilmu akhirat? Setelah meninggal..olint bakalan masuk ke alam mana?Or blablabla? Apa olint dah mempersiapkan bekalnya?...trus kalo dikasih tau “harga baju muslim di Distro ‘A’ katanya diskon 50% loh”..eh ternyata olint malah menggebu-gebu buat beli tuh baju, maksain lagi walowpun ga punya uang misalnya..biar keliatan keren…trus ada yang nawarin iklan “pelangsing badan atau pemutih wajah”..wuih langsung deh olint beli produknya, trus misalnya rambut keriting pengen di bonding.. rambut yang lurus pengen di kribo..ada HP fasilitas lebih canggih pengen banget beli..misalnya nih….apakah olint udah termasuk cinta akhirat dibanding dunia?.ngaku-ngaku olint cinta akhirat tapi unsur bersyukur gak ada, unsur obsesi dan rasa tidak puas atas pemberian dariNya masih banyak...untuk lebih cinta akhirat dibanding dunia aja butuh perjuangan. Gak segampang omongan lisan kita. Lisan lebih menipu dibandingkan aplikasi yang kita lakukan. astagfirullahaladziim…dosanya masih banyak uy.
Maksud dari kalimat tadi sih…Jadi jangan sampai kita terjerumus memperhatikan di luar sana banyak yang kafir..padahal diri pribadi masih mencirikan kekufuran (kafir- kufur)
Rasulullah pernah berkata “berbahagialah orang yang sibuk mengurusi aib dirinya sendiri sampai lupa untuk mengurusi aib orang lain”
Sebenernya ini juga butuh pembahasan yang panjang sih….
Menyangkut pertanyaan : ketika terkadang kita melihat secara kasat mata hidup mereka yang glamour dan sukses
Peletak dasar semua science rata-rata adalah orang-orang berilmu.. Aljabar, Al Khawarizm, Phytagoras, dll. Mereka itu muslim. Mengapa orang Islam banyak yang mengalami kemunduran? Karena banyak orang Islam yang meninggalkan kitabnya. Begitu juga orang-orang di luar Islam..mengapa mereka mengalami kemajuan? Karena mereka pun banyaknya yang meninggalkan kitabnya. (ko bisa?) kalo mereka mengikuti kitabnya..mereka pasti ga akan mengejar unsur keduniawian…agama Nasrani yang dibawa oleh Nabi Isa A.S n agama Yahudi yang dibawa oleh Nabi Musa A.S pun kitab-kitabnya ‘tidak mengajarkan hal yang menyimpang’..karena kitab itu memang diturunkan dari Allah Ta’ala..hanya saja ketika beratus-ratus tahun kitab itu mengalami perubahan sedikit demi sedikit oleh oknum-oknum tertentu..tapi secara aslinya sih kitab tersebut murni dari Allah…dan Al-Quran adalah yang melengkapi kitab-kitab sebelumnya…(ko jadi ngomongin kitab yah)…
Jadi intinya itu.. ^_^…
Kalo ditanya Apa sih masa depan yang diharapkan oleh kita sebagai remaja dalam persaingan hidup dengan musuh Islam
Kalo pribadi sih jawabnya…minimal taubatnya diterima…itu harapannya…karena bagi pribadi sih musuh didalem ini lah yang lebih jail, iseng, nakal, curang, pengen dianggep baik, cantik, pinter, sholeh, blablabla…jadi harepannya semoga Allah Bisa mengganti keburukan yang berada di dalam diri ini dengan kebaikan, kasih sayang dan cahaya iman…nah itu yang dikendalikan…soalnya Rasulullah bisa berperang karena emang kondisinya yang mengharuskan berperang, disisi lain ‘musuh internalnya sudah bisa digembalakan’… dan hakikatnya juga karena perintah dari Allah Ta’ala langsung kepada beliau.
Trus minimal sih kalo sekarang zamannya udah high tech, nah paling sih usaha yang kita lakukan pun adalah membuka cakrawala berfikir kita..tidak memandang sesuatu dengan sempit, melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang…karena pemikiran dilawan dengan pemikiran…tapi lebih indah sih..kekerasan dilawan dengan kasih sayang…karena Rasul pribadi mengajarkan itu..
Jangan sampei kita mempunyai statement “Islam punya solusi” tapi pas ditanya tentang sesuatu…kita gak punya jawabannya..malah memancing kekeruhan..kita bukan mencari lawan…matahari tidak memancarkan sinarnya pada orang Islam aja…
Nb: Allah Maha Tau kondisi masing-masing diri kita
Pesan…: Mohon maaf (Bahasa Indonesia), Punten(Sunda), Afwan (arabnya..hehe), kalo tulisan n jawabannya gak nyambung…terus kepanjangan..terus ada hadist yang belum lengkap karena lupa…Jujur..kesalahan, kefakiran, dan kekurangan ada dari olint pribadi…minimal olint berusaha sharing..karena masih banyak KhasanahNya…yang masih terkubur dan belum tergali..pengetahuan yang haq dariNya…
Kebenaran yang Haq milik Allah seutuhnya….
Olint mohon ampun atas kesalahan ini…dan olint mohon maaf klo ada kata2 atow kalimat yang nyinggung…tapi jujur, seutuhnya ini mah nyepet diri sendiri ko..
referensi :
Al-Quran, Al-hadist
http://suluk.blogsome.com --> Blogsnya Kang Herry ^_^
Wasalam
3 komentar:
Walah...panjang pisan!
Engke ah dibaca deui...;))
tos wengi sih...:D
Jawaban (dan ulasan) yang mengena dan bagus, lint ;) sok atuh mulai jadi mentor.
Senang sekali saya membaca struktur pemikiran olint di atas..
Tertarik bikin buku? Untuk remaja mungkin? Atau artikel?
Justru ini sebagian besar ngebajak dari tulisannya kang Herry,,tapi ga pa pa yah kang? semoga menjadi amal sholeh....^_^
hatur nuhun atas ilmunya....
mentor? -> kg Herry mah becanda aja...
Kalo bikin buku or artikel emang tertarik kang....tapi bahasa olint rada tulalit...tidak sesuai EYD yang berlaku...:)
Post a Comment