Kedoya Elok
14 Juli 2010
04:41 pagi
Salaam…
Ditengah suasana sepi dan sayup-sayup suara orang yang sedang mengaji menyambut adzan subuh, aku terbangun..Hari libur kedua dari aktivitas harian…yaah rasa mules dateng lagi di awal siklus bulanan, sehingga membuatku sulit memejamkan mata, terfikir apa yang harus kulakukan dan aku butuh untuk menulis…hal yang sering terlupakan saat ini.
Saat ini aku merindukan sanak keluargaku di bandung, kakak-kakak dan adikku yohan, merindukan canda riang keponakan-keponakanku yang sudah tidak sedikit lagi, merindukan orang tuaku yang apa adanya, merindukan masakan ayam balado buatan mamah yang rasanya berbeda dengan masakan lain, namun aku suka J. Aku sayang mereka walau masih banyak kelemahan untuk mengungkapkan rasa ini..aku merindukan kebersamaan yang semoga tak pernah ada lagi ada permasalahan ego remaja seperti dulu karena masing2 sudah dewasa dan berkeluarga, dan aku merindukan hal itu.. saat ini rasa rindu itu hanya mampu tersalurkan lewat telpon dengan mereka. ..
Hmm…terfikir soal lisan, kemarin aku dikirim bbm oleh adikku yohan mengenai menjaga lisan..yah isinya yang saling mengingatkan soal bahaya Lidah, dan hal ini cukup menyentuhku..karena ini hal yang biasa terjadi dan kita lakukan baik sadar ataupun tidak. Aku pernah dengar lirik lagu lawas yang kutipan baitnya “Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata”…yah itulah uniknya lidah, nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Tak bertulang, dan bebas untuk berkata-kata. Apa yang dikeluarkan adalah mencerminkan apa yang ada di dalam hati kita. Namun kelebihannya bisa menjadi kekurangan bagi yang memilikinya.. sekedar kutipan dari beberapa pertanyaan yang diajukan kepada muridnya yang salah satunya adalah mengenai lidah, isinya :
Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya, lalu beliau bertanya “Apakah yang paling tajam di dunia ini?” dan murid-muridnya bertanya dengan serentak “Pedang”, “Benar, tapi yang paling tajam adalah Lidah manusia, karena melalui lidah manusia dengan gampanganya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri”
Ternyata lidah adalah benda yang paling tajam jika dengannya, sebuah kalimat yang dikeluarkan bisa menyakiti hati dan perasaan orang lain, entah perkataan anak terhadap orang tua, orang tua terhadap anaknya, istri terhadap suami, suami terhadap istri, seseorang dengan kerabatnya, atasan terhadap bawahannya dan sebaliknya.
Dengan lisan apa yang keluar bisa berupa kata-kata baik dan santun, bisa berupa kalimat kritikan, komentar, pujian, makian, kesal, dll. Karena lidah adalah penyambung ungkapan rasa yang berada di dalam hati kita. Tak elak kita sering mendapatkan perkataan yang keluar dari lisan seseorang setiap saat kecuali kalo memang kita tinggal di sebuah gua, sendirian dan tak ada orang yang berada disekitar kita. Sebuah interaksi menghasilkan komunikasi yang terjadi diantara kita dengan orang lain, sehingga tak dapat dihindari lagi kita selalu menangkap sebuah ekspresi dari maksud dan ungkapan rasa seseorang.
Pernahkah kita mendengar seseorang yang selalu berkata kasar? Atau pernahkan menemui seseorang yang berkata halus dan lemah lembut? Hanya kita yang bisa merasakan itu, karena masing2 dari kita terbentuk dari lingkungan yang berbeda dan cara pendidikan yang beragam entah dari orang tua, lingkungan rumah, atau sekolah. Sehingga setiap orang dapat menangkap sebuah maksud dan rasa yang berbeda pula.
Jika ada seorang yang besar di sebuah lingkungan anggap saja terminal ataupun pasar, bertemu dengan seseorang yang terbiasa dengan lingkungan masjid ataupun dibesarkan dari keluarga yang terbiasa santun, sungguh itu suatu hal yang kontras terjadi sehingga kedua orang ini bisa sangat kaget dan aneh ketika berhadapan dengan kalimat-kalimat yang berbeda.
Namun ketika ada sebuah perkataan yang keluar sehingga menyakiti si penerima, itu yang perlu kita waspadai. Karena ucapan lidah kita mampu menembus ke hati dan menyentuh rasa seseorang, entah rasa sakit, haru, nyaman, tenang, sehingga respon penerima diantaranya ada yang merasakan dengan ucapannya membuatku tenang, atau ucapannya membuatku semangat dan termotivasi, bahkan sampai ucapannya membuat hatiku sakit rasanya. Sehingga ketika lidah yang terucap dan mampu menembus perasaan si penerima dan ketika si penerima tersakiti maka itulah yang membuat lidah itu sangat tajam melebihi sebuah pedang.
Seseorang dengan lidahnya yang telah menyakiti bagaikan sebuah paku yang ditancap kepada sebuah kayu, hari pertama anaknya menyakiti ayahnya..dan ayahnya mencoba menancapkan pakunya ke kayu, hari kedua dia menyakiti lagi, kemudian ditancapkannya lagi paku itu.. hingga hari2 selanjutnya, anak it u terus menyakiti perasaan bapaknya sehingga paku yang tertancap memenuhi kayu tersebut. Suatu saat anak itu meminta maaf atas perkataan yang telah menyakiti hati bapaknya…dan bapaknya pun mencabut semua paku yang tertancap di sebuah kayu tanda bapaknya memaafkan sang anak, namun apa yang terjadi? Paku itu tidak ada, namun bekas tancapan yang berada di kayu itu masih tersisa, itulah mengapa sebuah ucapan yang telah terucap dan menyakitkan si penerima tidak dapat ditarik kembali, dan waktupun tak bisa diulang kembali. Hanya kelapangan hati dan rasa memaafkan sang bapak yang bisa mengobati rasa sesal anak itu.
Seperti apakah sosok Rasulullah saw? Yang kudengar beliau sosok yang santun, yang sangat menjaga lisannya, sosok yang lemah lembut, bahkan tegas ketika menyangkut kebenaran.. semua sifat yang proporsional.. ketika bercanda tak berdusta, tidak melebih-lebihkan, tidak menyakiti perasaan si penerima. SubhanALLAH….apakah setelah beliau ada yang meneladani sifat2nya? Sifat yang baik bahkan dengan menjaga lisannya? Semoga kita bisa meneladani sifat2 dan ajaran yang disampaikannya…amiin…
Dengan lidah, sesuatu yang kecil dan tak bertulang, dengannya bisa menjadi ketaatan yang teguh dengannya bisa tertipu karenanya, tiada terlepas daripadanya selain dengan diam.














